Blogger Template by Blogcrowds

Assalamu'alaikum wr.wb.

Langsung saja ya...ibu saya memiliki sebuah warung sembako. Nah dalam praktek sehari-hari tentu saja ada yang membeli secara tunai dan ada pula yang nge-bon. Artinya, bulan depan baru dibayar. Harga untuk membeli secara tunai berbeda sekitar 100-300 dengan sistem catat atau nge-bon tadi, yang mau saya tanyakan apakah itu termasuk riba?

Wassalamualaikum wr. wb.

Annisa-Balikpapan


Wassalamualaikum wr. wb.

Sahabat Annisa yang baik, penjelasan ini menegaskan tentang pemahaman mengenai model transaksi jual-beli yang sering berlaku di masyarakat. Sepintas, dapat pengasuh jelaskan bahwa model transaksi jual-beli yang lazim terjadi di masyarakat dapat dipilah menjadi dua, yaitu (i) transaksi jual-beli yang dilakukan secara tunai (cash), dan (ii) transaksi jual-beli yang dilakukan tidak secara tunai (credit).

Transaksi jual-beli secara tunai tidak meninggalkan masalah antara penjual dan pembeli. Karena, hak dan kewajiban keduanya sudah ditunaikan. Hak penjual menerima pem-bayaran dari pembeli telah dilaksanakan, begitu pula hak pembeli untuk menerima barang dari penjual. Sedangkan kewajiban kedua belah pihak juga telah ditunaikan. Penjual telah menunaikan kewajibannya menyerahkan barang dagangannya ke pembeli, begitu pula pihak pembeli juga telah menyerahkan uang pembayarannya kepada penjual.

Lain halnya, dengan model transaksi jual-beli yang dilakukan dengan cara tidak tunai (credit). Masih menyisakan masalah antara pihak penjual dan pembeli. Karena, ada salah satu pihak yang belum menerima hak dan belum menunaikan kewajibannya. Yaitu pihak penjual belum menerima hak pembayaran uang dari pembeli, karena pihak pembeli belum menunaikan kewajiban membayar uang pembelian atas barang. Sedangkan kewajiban bagi penjual untuk menyerahkan barang dagangannya ke pembeli telah ditunaikan.

Dalam pandangan syariah Islam, penetapan harga pada transaksi jual-beli ditentukan sewaktu akad. Terlepas apakah pembayarannya dilakukan secara tunai (cash) ataupun dibayar secara non tunai (credit) tidak menentukan ke-shahih-an transaksi tersebut. Keduanya dibenarkan secara syar’i. Misal, kata penjual, “Saya jual barang ini dengan harga Rp. 10.000,- terserah Anda membayar secara tunai atau non tunai”. Asumsinya, harga yang telah ditawarkan penjual di atas sudah termasuk margin penjualan. Dalam hal ini, margin atau keuntungan dalam penjualan merupakan bagian dari ziyadah al-buyu’ (tambahan dari penjualan), bukannya ziyadah al-qurudh (tambahan dari pinjaman).

Berkaitan dengan penjelasan mengenai riba, pengasuh dapat memberikan penjelasan sebagai berikut. “Pengertian mengenai riba bukannya difahami sebagai ziyadah al-buyu’ (tambahan dari haril penjualan), tetapi riba adalah tambahan dari pinjaman (ziyadah al-qurudh)”. Pemahaman ini menegaskan bahwa keuntungan jual beli, bukanlah termasuk riba. Baik keuntungan tersebut diperoleh dari pembayaran secara tunai (cash) ataupun diperoleh melalui pembayaran tidak tunai (credit). Sedangkan setiap tambahan pinjaman termasuk kategori riba. Seperti ditegaskan dalam sebuah hadits, kullu qardhin jarra manfa’atan fahuwa ar-riba, setiap tambahan yang disertai dengan manfaat termasuk dalam riba.

Masalahnya sekarang adalah timbulnya perbedaan jumlah besaran harga tunai (cash) dan harga non tunai (credit) yang tidak sama. Sejatinya, masalah ini tidak akan muncul, jika transaksi jual-beli tersebut dilaksanakan secara tunai (cash). Selaras dengan penjelasan di atas, Imam Zaid bin Ali r.a, cicit Imam Ali bin Abi Thalib, pernah melontarkan pendapat bahwa, harga tangguh (non tunai) boleh lebih tinggi dari harga tunai. Artinya, perbedaan harga yang terjadi dalam transaksi jual-beli secara tunai (cash) dengan jual-beli non tunai (ngebon) tidak masalah. Karena, keduanya bukan termasuk ziyadah al-qurudh (tambahan dari hasil pinjaman), tetapi masuk dalam kategori ziyadah al-buyu’ (tambahan dari penjualan atau keuntungan dari jual-beli).

Demikian penjelasan yang dapat pengasuh sampaikan. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita mengenai ekonomi syariah. Wallahu a’lam bis showab. [hsn]

www.pkesinteraktif.com

Pertanyaan:

Saya adalah seorang pedagang atau pemilik warung sembako dan kelontong. Bagaimana menghitung zakat usaha saya?


Jawaban:

Landasan hukum atas harta perniagaan didasarkan pada dalil yang umum dari nash qur’an surat Al-Baqarah ayat 267 : ”Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (zakatkan) dari sebagian hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari hasil bumi yang Kami (Allah) keluarkan untuk kalian”. Dan beberapa hadist diantaranya, ”Rasulullah memerintahkan kepada kami agar mengeluarkan sedekah (zakat) dari segala yang kami maksudkan untuk dijual (H.R. Abu Daud), dan riwayat yang lain, ”Bayarlah zakat kekayaan kamu!”, (H.R. Turmudzi).

Dan syarat bagi harta perniagaan adalah:

1. Kepemilikan dikuasai oleh muslim baik individu maupun patungan.
2. Bidang usahanya halal.
3. Dapat diperhitungkan nilainya.
4. Dapat berkembang.
5. Memiliki kekayaan setara atau lebih 85 gram emas.

Untuk perhitungan zakatnya kita lihat 3 keadaan harta berikut, yaitu dalam bentuk uang tunai/bank, komoditas atau persediaan, dan piutang. Yang dimaksud harta perniagaan yang wajib dizakati adalah ketiga bentuk harta tersebut dikurangi dengan kewajiban, seperti hutang yang harus dibayar (jatuh tempo) dan pajak.

Contoh perhitungan:

Akhir tahun tutup buku (bisa bulan ramadhan ini), keadaan warung anda sebagai berikut:
1. Stock barang setelah dinilai dengan uang : Rp.10.000.000,-
2. Uang Tunai/Bank : Rp.15.000.000,-
3. Piutang : Rp. 2.000.000,-

Jumlah : Rp.27.000.000,-

Hutang yang harus dilunasi (jatuh tempo) : Rp. 7.000.000,-

Saldo : Rp.20.000.000,-

(Saldo melebihi dari nishab senilai 85 gram emas atau setelah dikurskan sebesar Rp.16.660.000,- )
Maka, besarnya zakat perdagangan anda adalah sebesar : 2,5% x Rp.20.000.000,- atau Rp. 500.000,-

Wallahu’alam.

dsniamanah.or.id

Jumat, 01 Februari 2008

Warung yang menjual sembilan bahan kebutuhan pokok (sembako) sangat mudah ditemui di berbagai tempat dan pelosok di wilayah negeri ini. Di warung yang biasanya menyatu dengan rumah pemiliknya, disediakan beragam kebutuhan primer masyarakat. Namun, tidak banyak lembaga keuangan yang melirik dan membantu perkembangan sektor usaha warung sembako dan makanan tersebut. Padahal, potensi bisnis usaha ini cukup signifikan.

Salah satu lembaga keuangan yang tergerak untuk membantu perkembangan sektor usaha warung tersebut adalah BMT Khidmatul Ummah. Bagi lembaga keuangan mikro syariah (LKMS) yang terletak di Kabupaten Bogor ini, sektor usaha warung dan makanan menjadi jenis usaha yang layak dibiayai. Alasannya, sektor tersebut memiliki risiko yang relatif kecil dari segi pembiayaan bermasalah.

Kabag Operasional BMT Khidmatl Ummah, Erna Indri Astuti, menyebutkan, hingga akhir tahun lalu, sekitar 65 persen pembiayaan BMT-nya disalurkan pada sektor usaha warung sembako dan makanan. Masing-masing pembiayaan modal kerja tersebut berkisar antara Rp 500 ribu hingga Rp 15 juta. Margin masing-masing pembiayaan itu berkisar dua hingga tiga persen per bulan. '

'Memang cukup banyak nasabah pembiayaan kami yang usahanya adalah warung penjual sembako dan makanan. Sekitar 65 persen dari total pembiayaan,'' katanya kepada Republika, belum lama ini.

Menurut Erna, nasabah pembiayaan usaha warung sembako dan makanan ini tersebar di sejumlah daerah di Kabupaten Bogor. Di antaranya adalah di Pasar Leuwiliang, Kecamatan Cibungbulang, Kecamatan Pamijahan, dan Kecamatan Ciampea. ''Memang cukup bagus sambutan masyarakat atas pembiayaan syariah kami,'' ujar dia.

Erna menyebutkan, pada awalnya, BMT Khidmatul Ummah menerapkan strategi pemasaran jemput bola saat memasarkan layanan pembiayaan mikro syariah bagi usaha warung. Rupanya masyarakat memberikan tanggapan yang bagus sehingga promosi dari mulut ke mulut pun menyebarkan turut layanan ini.''Jadi, ketika ada nasabah kami yang puas, dia cerita ke yang lain dan akhirnya datang meminta pembiayaan,'' papar dia.

Selain membiayai usaha warung, menurut Erna, BMT Khidmatul Ummah juga membiayai sejumlah sektor usaha mikro lainnya. Di antaranya adalah pembiayaan bagi usaha musiman. Di antaranya, lanjut dia, pembiayaan untuk penjualan kambing ketika idul kurban. Sedangkan margin pembiayaannya ditetapkan berdasarkan kesepakatan. Tahun lalu, BMT membiayai usaha pengumpul barang bekas dengan nilai pembiayaan mencapai Rp 50 juta.

Hingga akhir tahun lalu, Erna menyebutkan, BMT Khidmatul Ummah menyalurkan pembiayaan mikro syariah hingga Rp 4,3 miliar. Pembiayaan itu diserap oleh sekitar 600 nasabah. Penghimpunan dana masyarakat melalui tabungan dan deposito hingga akhir tahun lalu tercatat sebesar Rp 1,5 miliar. Dana tersebut dijaring dari 1.500 nasabah. Aset BMT Khidmatul Ummah hingga akhir tahun lalu mencapai sekitar Rp 5 miliar dengan modal sebesar Rp 80 juta.

Dituturkan Erna menceritakan, BMT Khidmatul Ummah didirikan pada Mei 1995. Saat itu, LKMS tersebut didirikan dari dana patungan sebesar Rp 3,5 juta dari 32 orang. Mereka termotivasi oleh dorongan LSM Peramu yang bergerak di bidang kesejahteraan rakyat dan sosial.

Pada 7 Agustus 1998, menurut Erna, BMT Khidmatul Ummah mendapatkan pengesahan sebagai badan hukum koperasi. Hal tersebut cukup penting untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat. Saat ini, BMT Khidmatul Ummah berlokasi di Jl Galuga No 01 KM 19, Dukuh Cibungbulang, Bogor.

(aru )

www.republika.co.id

Pertanyaan:

Saya mempunyai warung sembako. Saya ingin menggunakan komputer untuk pembukuan dan transaksi penjualan. Program apa yang dapat dipakai dan murah?

Anonim, via SMS


Jawaban:

Untuk warung sembako yang hendak diotomatisasi, ada beberapa pilihan yang dapat dilakukan. Bisa menggunakan OpenOffice. Pilih OpenOffice Calc untuk melakukan penghitungan transaksi serta Open-Office Writer untuk membuat tanda bukti pembelian.
Namun, bilamana transaksi sembakonya banyak atau warung sembakonya adalah agen yang melayani satu distrik, saran saya gunakan ADempiere. Download di www.sf.net/projects/adempiere. Gunakan hanya fitur inventory, fitur barang masuk, barang keluar, dan stok. Itu saja.
Untuk warung sembako dengan transaksi besar, ADempiere masih bisa digunakan untuk mengelola. Ada alternatif lain berupa Oracle XE. Bilamana tidak mau menggunakan Oracle XE, alternatif yang lain adalah Ofbiz. Download di ofbiz.apache.org. (*)

Founder of Meruvian
Consulting Services
Frans Thamura

microsky.wordpress.com

Klinik Bisnis
Konsultasi Kewirausahaan
bersama Zainal Abidin



Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Kepada Yth. Bapak Zaenal Abidin.

Saya pegawai negeri yang punya usaha sampingan buka warung sembako. Saya usaha warung sudah 15 tahun tapi sering jatuh bangun, bagaimana caranya untuk mengembangkan usaha tersebut? Hasil dari warung saya itu dipakai untuk makan sehari-hari sedangkan gaji saya hanya cukup untuk membayar keperluan bulanan seperti listrik telpon dan lain-lain, padahal pembeli (langganan) sudah banyak dan kalau saya menyediakan apa saja selalu habis terjual. Mohon sarannya. Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih

Wassalam Wr. Wb.

Henny Maria
henimaria at eramuslim.com


Jawaban

Wa ’alaikum salaam Wr. Wb.

Mbak Henny. Ini rumus penggunaan uang untuk orang-orang biasa:

Tabungan/investasi = penghasilan – pengeluaran

Rumus ini menyiratkan, bahwa seseorang baru bisa menabung jika ada selisih positif antara penghasilan dan pengeluaran. Dan ini biasanya tidak terjadi. Orang-orang biasa seringkali menghabiskan berapapun penghasilannya untuk kebutuhan konsumsi. Mohon maaf, mungkin anda masih termasuk dalam golongan orang seperti ini.

Kalau anda mau berubah, anda pasti bisa berubah. Syaratnya hanya satu. Anda tidak puas dengan kehidupan yang kini tengah anda alami. Yang harus anda ubah pun tidak terlalu sulit. Cukup mengubah rumus di atas menjadi:

Penghasilan – investasi = pengeluaran

Penjelasannya, jika anda memperoleh penghasilan, berapa pun besarnya, sisihkan terlebih dahulu untuk tabungan atau investasi. Bisa anda belikan sejumlah barang untuk dijual kembali, atau anda simpan di bank. Sisanya baru anda gunakan untuk membayar listrik, telepon, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk itu, anda juga harus siap melakukan down grade, atau turun standar hidup. Kalau biasanya dengan rumus pertama, anda bisa makan dengan daging seminggu 3 kali, dengan rumus baru mungkin anda harus mau hidup dengan makan daging seminggu sekali. Lakukan itu, demi masa depan yang lebih baik.

Demikian jawaban yang bisa saya berikan. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Selamat berwirausaha. Semoga Allah mengabulkan keinginan anda.

Wa ’alaikum salaam Wr. Wb.
Zainal Abidin

www.eramuslim.com

Klinik Bisnis
Konsultasi Kewirausahaan
bersama Zainal Abidin



Assalaamu'alaikum wr. wb.

Bapak Zainal Abidin yang dirahmati oleh Allah SWT, tahun depan saya akan pindah kerja ke kota lain, jugaada rencana untuk memulai usaha warung sembako (grosir) yang awalnya dijalankan oleh isteri saya.

Modal usaha warung tersebut Rp 20 juta, -. Gaji selama saya bekerja dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari, sedangkan uang usaha + keuntungan akan dikembangkan terus agar usaha warung sembako lebih maju.

Setelah keuntungan dari warung dianggap cukup atau bisa diambil buat kebutuhan sehari-hari, saya akan berhenti bekerja agar bisa fokus terhadap usaha warung tersebut. Tempat tinggal & warung akan saya usahakan yang strategis yaitupinggir jalan.

Bagaimana menurut pendapat Bapak Zainal Abidin mengenai rencana saya tersebut. Saya sangat senang apabila Bapak bisa mengoreksinya & memberi jalan alternatif yang lainnya. Saya senang dengan. jawaban-jawaban Bapak terhadap berbagai pertanyaan di Konsultasi Klinik Bisnis ini.

Habibi


Jawaban

Wa ’alaikum salaam Wr. Wb.

Bung Habibi. You are on the right track. Anda berada pada jalur yang benar. Setidaknya, itu menurut saya. Anda memilih jalan sunyi yang jarang ditempuh orang. Memilih melepaskan ketergantungan pada pihak lain, dan mencoba untuk hidup di atas kaki sendiri. Jalan Kemandirian.

Tahun depan, anda harus pindah bekerja di kota lain. Hal ini harus anda perhitungkan, mengingat usaha warung sembako yang dikelola isteri anda, tidak mungkin ikut pindah.

Pilihannya, mungkin ada tiga. Isteri anda tetap tinggal di kota asal dan mengelola usaha yang sudah dijalankan.

Pilihan kedua, usaha warung sembako dikelola oleh orang lain. Untuk pilihan ini, sejak sekarang anda harus membuat suatu sistem yang bisa membantu anda mengontrol jalannya usaha, sekalipun anda berdua tinggal di kota lain.

Bagaimana sistem belanja, sistem pembayaran, sistem pelaporan keuangan, sistem penyetoran dana keuntungan usaha, sistem penggajian dan sebagainya. Untuk pilihan ini, setidaknya anda harus memiliki orang-orang yang bisa dipercaya, yang bertugas menjalankan roda usaha.

Pilihan lain, anda menutup kemungkinan untuk pindah bekerja ke luar kota. Variannya ada dua. Anda berhenti bekerja dari tempat sekarang. Anda bisa bekerja di tempat lain di kota yang sekarang anda tinggali, atau sama sekali berhenti bekerja dan menekuni usaha secara fulltime.

Setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Pilihlah berdasarkan kemampuan anda dalam menerima resikonya.

Demikian jawaban yang bisa saya berikan. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Selamat berwirausaha. Semoga Allah mengabulkan keinginan anda.

Wa ’alaikum salaam Wr. Wb.
Zainal Abidin

www.eramuslim.com

Posting Lebih Baru Beranda